Senin, 19 Maret 2018

SEBUAH RUANG ...




aku tidak menyangka bahwa pertemuan antara kita hanya sebatas bertemu 
tanpa ada makna lain dibalik hubungan kita
tanpa ada makna lain di balik janji kita
tanpa ada makna lain dibalik kenangan kita
hanya di minta untuk bertemu, tidak ada maksud lain
kenapa Tuhan sangat adil sekali terhadap kita?

aku dan kamu berteman lama
bertahun-tahun lamanya
meski lama tak jumpa tapi tetap bertemu dalam suatu kondisi kita
hingga seringkali kita berfikir bahwa kita memang satu sama lain
kita? bukan. hanya aku yg berfikir begitu.
karna yg kutau meski kamu denganku, kamu membagi pula dengan teman dekatmu.
membagi apa? "suatu kedekatan", bisa dibilang itu lebih dari kata "dekat"

kita tidak berjumpa, berbulan-bulan lamanya..
lalu kita bertemu, lagi-lagi dalam suatu kondisi yang tidak memungkinkan.
kondisi dimana aku sudah berjalan ke kanan, sedang kamu menungguku di persimpangan jalan.
kita berdiam diri, mendiamkan segalanya, yang tampak hambar.

tahun berganti, kita memutuskan untuk berhenti saling menoleh.
cukup bahwa aku tau bagaimana kabarmu, dan sebaliknya.
hingga lelah, aku mencoba mencarimu.
apa yang aku dapatkan? benar2 kondisi yang sebaliknya.
kamu sedang berbahagia, sedang aku berusaha bangkit disaat terluka.
dan kamu bilang ingin pergi.

aku berhenti, memutuskan segalanya.
yang bisa aku lakukan, aku mengakhiri segala janji yang pernah kita ukir bersama
everything has gone.
sudah seharusnya aku menyudahi segalanya dari awal, dari awal perjumpaan kita.

waktu telah berlalu, tak kusangka kita dipertemukan lagi dengan kondisi yg sama.
kita sama-sama telah saling berbahagia, 
tapi hanya kamu yg berbahagia, sedang aku tidak (katamu)
aku berfikir lurus kedepan, tidak menghiraukan suaramu yg berusaha memanggilku
tidak menghiraukanmu yg tiba2 datang dan menggenggamku.
aku benar2 melepasmu.
kamu lantas pergi (lagi). dan aku bilang, aku baik-baik saja.

tiba suatu hari, kita bertemu. kukira itu merupakan sebuah kebetulan.
tapi ternyata kamu yg menginginkan segalanya, pertemuan kita.
kamu menggenggam tanganku didepan mereka, erat.
 tatapanmu yg hampir meluluhkan mataku untuk segera berbicara.
katamu pergi, kenapa harus kembali?
aku ingin me-nol-kan segalanya (katamu)

hari itu kita kesana-kemari, berputar-putar tanpa arah
"me-nol-kan" segalanya..

kita harus benar-benar berpisah, 
berpisah untuk bertemu kembali? tanyamu.
tidak, kita harus benar2 berakhir. aku sudah tidak bisa lagi bertemu denganmu.
kamu pergi dan datang tanpa harus kuminta, jadi aku ingin kamu benar2 pergi saat aku memintamu. tolong.
kamu mendiamkanku, lamaa.
aku tidak merindukanmu, aku hanya ingin bertemu. saat kamu sudah tersenyum tertawa, aku juga berbahagia (katamu lagi).
tentu aku berbahagia, aku tidak mengharapkan kebahagiaanmu tapi aku harap kamu selalu bisa tersenyum saat tidak (lagi) denganku.

percakapan terakhir, pertemuan terakhir, kita berpisah. tanpa ada kalimat penyesalan diantara kita.
kenangan dan janji manis yg pernah kita sematkan saat percakapan kita seperti hanya lewat seperti kabut.
 kabut setia datang saat pagi, sama seperti kenangan kita.
hanya bisa menjadi kenangan yg kita pernah lalui di masa-masa itu.

jangan mencari-cariku, krn aku tidak ingin mencari-carimu. 
kamu lebih bisa berbahagia tanpaku, jadi biar masa-masa itu tetap dalam ingatan.
kita bertemu, dan kita pernah saling memiliki. itu sudah cukup.
setelah sekian lama, aku benar-benar bisa rela melepaskanmu. sayonaraaaa. 




Tidak ada komentar:

Posting Komentar